Minggu, 27 Januari 2019

Artikel Tujuan BK


Tujuan BK dan Kaitannya terhadap K.13 serta cara merubah image BK terhadap pandangan para siswa tingkat SMA


Abstrak
Tujuan penulisan ini adalah untuk melihat fungsi BK dan kaitannya terhadap K.13 dalam rangka meningktakan kemandirian siswa dalam menghadapi berbagai masalah serta cara merubah image BK terhadap pandangan para siswa tingkat SMA dimana BK memiliki momok negatif terhadap sudut pandang para siswa. Pada K.13 BK sangat berguna dalam memandirikan siswa untuk menghadapi masalah atau persoalan internal maupun ekstrenal selain itu BK juga berfungsi sebagai suatu bimbingan yang membuat siswa paham akan potensi, bakat dan minat dirinya.

Kata Kunci : Fungsi, Mandiri, Masalah, Potensi

1. Pendahuluan
 1.1 Latar Belakang
Dalam ruang lingkup k.13 peran siswa sangat di tuntut untuk lebih aktif dari guru, siswa di kenalkan dengan model-model pembelajaran yang salah satunya adalah saintifik dimana siswa tersebut harus mampu mengamati, menanya, mengidentifikasi, menalar, serta mengkomunikasikan suatu materi yang dikaitkan dengan suatu fenomena, sehingga belajar tersebut menimbulkan rasa sensitivitas siswa dalam melihat masalah, dan siswa mampu membangun pengetahuannya sendiri dikarenakan adanya upaya siswa dalam menemukan dan mencari solusi terhadap suatu fenomena sehingga belajarpun mennjadi bermakna. Siswa aktif dan guru berperan sebagai mediator dan faslitator.
Penilaian di dalam k.13 dilihat bukan dari aspek pengetahuan saja, melainkan dari aspek keterampilan, sikap dan tingkahlakunya, namun dengan hadir nya K.13 beban guru pun semakin banyak, dilihat saja dalam penilaian. Guru harus mengisi format penilaian dan harus lebih mengamati siswa disisi lain guru juga harus mengurus sertifikasinya dengan jam wajib 24 jam, belum lagi jika guru tersebut menjadi wali kelas. Untuk para siswa k.13 juga menempatkan siswa lebih aktif dengan membuat diskusi kelompok, namun dengan adanya diskusi kelompok waktu yang diperlukan dalam proses belajar mengajar menjadi lebih banyak, waktu mereka banyak dihabiskan disekolah, banyak siswa yang merasakan kelelahan dan jenuh terhadap proses pembelajaran dan lama waktu yang digunakan.
Dalam hal ini untuk menghindari kejenuhan dan beratnya beban yang di tanggung para siswa, sekolah pun memasukkan BK sebagai bagian dalam satuan pendidikan, yang mana BK mempunyai tujuan-tujuan  yang dapat membantu siswa dalam menghadapi masalah belajar dalam kurikulum 2013. Selain belajar, siswa juga boleh berkonsultasi kepada BK sehingga siswa mampu mengontrol emosinya dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya selama proses belajar mengajar berlangsung serta mampu membagi waktu agar kejenuhan dalam belajar dapat di minimalisirkan. Namun BK di tingkat satuan pendidikan terlihat sebagai suatu tempat atau layanan yang hanya di peruntukkan untuk orang-orang nakal dan bermasalah dibidang akademis nya, bahkan ada persepsi orang “kalau gk nakal, gk ada kerja guru BK nanti” problem BK di tingkat satuan pendidikan selain menjadi momok negatif terhadap sudut pandang para siswa, konselor di sekolah di anggap sebagai polisi sekolah sehingga siswa takut dan tidak mau untuk berkonsultasi ke BK terhadap masalah yang dihadapinya baik masalah internal maupun eksternal.
1.2  Tujuan Penulisan
Untuk menjelaskan tujuan BK dalam rangka meningkatkan kemandirian siswa di dalam K13 serta cara merubah image BK terhadap pandangan para siswa tingkat SMA
2. Pembahasan
2.1 Defenisi Bimbingan Konseling (BK)
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan. Sementara konseling, secara etimologi berasal dari bahasa Latin “consilium “artinya “dengan” atau bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami” . Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyerahkan” atau “menyampaikan” Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketiga hal tersebut (Berdnard & Fullmer ,1969).
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995).
Bimbingan dan konseling merupakan layanan ahli oleh konselor (guru bimbingan  dan konseling). Konselor adalah salah satu kualifikasi pendidikan, yaitu tenaga kependidikan, yaitu tenaga kependidikan yang memiliki kekhususan pada bidang bimbingan dan konseling, yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.[1]
2.2 Tujuan Bimbingan Konseling (BK)
Tujuan bk dibagi kedalam 2 kategori : (a). Tujuan umum, (b). Tujuan khusus [2]
a)      Tujuan umum : untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakag yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.
Contoh di K.13 : Kurikulm 2013 dalam tingkat SMA telah mengatur pembagian jurusan ipa/ips sejak semester 1 awal masuk sekolah. Dalam hal ini BK bertujuan agar para siswa mampu memilih jurusan yang sesuai dengan potensi, bakat dan minatnya, selain dalam lingkup sekolah menengah atas juga akan berlanjut pada Perguruan Tinggi Negeri. Dalam pemilihan jurusan peran konselor sangat penting untuk memberi suatu arahan terhadap siswa yang belum mengetahui jurusan apa yang sesuai dengan bakat dan minatnya.
b)      Tujuan khusus : penjabaran tujuan umum yang dikaitkan dengan permasalahan yang di alami klien / siswanya. Dikarenakan individu makhluk yang unik maka cara membimbing klien tidak boleh disamaratakan dengan klien yang lain.
Contoh di K.13 : (1). Seorang anak yang salah jurusan, disana konselor bisa menganalisi apa dan kenapa sang anak bisa salah jurusan, konselor kemudia menggali tentang karakter atau bakat minat anak itu, kemudia konselor bisa mengarahkan anak tersebut, dan disini klien sendirilah yang akan mencari solusi dari masalahnya.
(2). K.13 anak di tuntut untuk aktif, namun jika ada seorang anak yang tidak aktif dan dia berkonsultasi dengan BK maka guru bk bisa memberi suatu arahan atau sebuah motivasi sehingga ia kembali termotivasi dalam pembelajaran dan ia mampu aktif di dalam kelas.
(3). Seorang anak mengalami kejenuhan saat proses pembelajaran dikarenakan ia tidak bisa membagi waktunya antara belajar dan bermain dengan teman selingkungannya. Dalam hal ini, anak tersebut bisa berkonsultasi kepada BK bagiamana cara agar ia bisa membagi waktunya, dan meminimalisirkan rasa jenuh terhadap pelajaran disekolah.
2.3 Cara mengubah image BK terhadap sudut pandang siswa (BK)
Peran guru mata pelajaran atau wali kelas bisa berpengaruh dalam mengubah image BK di dalam mindset para siswa, salah satunya adalah memasyarakatkan BK, dan mensosialisasikan BK terhadap siswa, beri tahu siswa apa itu BK, tujuan Bk, Asas-asas Bk, layanan BK, dsb.
Adapun upaya Guru sebagai pembantu guru BK :
Dalam buku Manajemen Bimbingan dan Koseling terdapat rincian tugas guru mata pelajaran, di antaranya:
a.Membantu guru pembimbing dalam mengidentifikasi siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling.
b.Membantu memberikan data atau informasi siswa baik individual mapupun kelompok untuk keperluan layanan.
c.Membantu pelaksanaan treatment/pemberian bantuan kepada siswa melalui proses belajar mengajar.
d.Memberikan pengajaran perbaikan (remedial teaching) ataupun pengayaan (enrichment) dalam rangaka pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling.
e.Mengikuti konferensi kasus siswa terutama bagi guru yang mengajar pada kelas dimana persoalan siswanya dibicarakan dalam konferensi kasus.
f.Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing.
g. Berpartisipasi dalam upaya pencegahan munculnya masalah siswa, dalam pengembangan potensi, dan turut bertanggung jawab dalam upaya mengatasi masalah siswa di sekolah.[3]
Dalam hal ini perlu kerja sama antara semua pihak sekolah selain dari guru, kepala sekolah juga harus ikut andil dalam memasyarakatkan BK, dengan salah satu caranya kepala sekolah memberikan prasarana dan sarana Bimbingan Konseling yang memadai dan tepat guna. Selain itu guru BK juga harus inovatif dan bersahabat kepada para siswa agar cap polisi sekolah bisa perlahan hilang. Guru BK jugs harus lebih berkompeten di bidangnya.
3. Penutup
3.1 Kesimpulan
Di dalam ruang lingkup k.13 siswa di tutut untuk aktif, dan guru sebagai mediator dan fasilitator, namun waktu yang di pergunakan pada k.13 cukuplah banyak, dikarenakan siswa harus aktif, maka sering dilakukan diskusi. Penilaian dalam k.13 pun beragam, baik penilaian dari aspek pengetahuan, ada juga penilaian aspek keterampilan dan aspek tingkah laku. Penilaian yang seperti ini membuat guru terbebani dikarenakan guru di sibukkan dan sertifikasi juga. Bukan guru saja, siswa juga merasa jenuh dan kelelahan dikarenakan waktu yang banyak dihabiskan di sekolah. Hal-hal seperti ini bisa di konsultasikan kepada BK, bagaimana cara siswa agar terhindar dari rasa jenuh dan mampu membagi waktunya antara belajar dan bermain. Dengan berkonsultasi kepada BK siswa menjadi mampu menyelesaikan masalahnya secara mandiri, siswa juga mampu memahami dirinya dikarenakan adanya arahan dari BK. Namun di tingkat satuan pendidikan Khususnya di SMA, BK merupakan suatu layanan atau tempat untuk orang-orang nakal dan bermasalah, bahkan ada persepsi “kalau gk nakal, gk ada kerja guru BK nantik” , konselor juga di anggap sebagai polisi sekolah yang menakutkan. Sehingga tak jarang siswa menghindari BK.
3.2 Saran
Mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.



DAFTAR PUSTAKA
Kamaludin.H. Bimbingan dan Konseling Sekolah. https://jurnaldikbud.kemdikbud.go.id. 2011. Hal:448
Priyatno dan Anti Erman. 1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Rineka Cipta. Hal:112
Thantawy R. 1995. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Jakarta. PT. Pamator Pressindo. Cet.Pertama. Hal:98





[1]Kamaludin.H.Bimbingan dan Konseling Sekolah. 2011. Hal:448

[2] Priyatno dan Anti Erman. 1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Rineka Cipta. Hal:112
[3] Thantawy R. 1995. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Jakarta. PT. Pamator Pressindo. Cet.Pertama. Hal:98

Tidak ada komentar:

Posting Komentar