Tujuan BK dan Kaitannya terhadap K.13 serta cara merubah image BK terhadap pandangan para siswa tingkat SMA
Abstrak
Tujuan
penulisan ini adalah untuk
melihat fungsi BK dan kaitannya terhadap K.13 dalam rangka meningktakan
kemandirian siswa dalam menghadapi berbagai masalah serta cara merubah image BK
terhadap pandangan para siswa tingkat SMA dimana BK memiliki momok negatif
terhadap sudut pandang para siswa. Pada K.13 BK sangat berguna dalam
memandirikan siswa untuk menghadapi masalah atau persoalan internal maupun
ekstrenal selain itu BK juga berfungsi sebagai suatu bimbingan yang membuat
siswa paham akan potensi, bakat dan minat dirinya.
Kata Kunci : Fungsi, Mandiri, Masalah, Potensi
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Dalam ruang lingkup
k.13 peran siswa sangat di tuntut untuk lebih aktif dari guru, siswa di
kenalkan dengan model-model pembelajaran yang salah satunya adalah saintifik
dimana siswa tersebut harus mampu mengamati, menanya, mengidentifikasi,
menalar, serta mengkomunikasikan suatu materi yang dikaitkan dengan suatu
fenomena, sehingga belajar tersebut menimbulkan rasa sensitivitas siswa dalam
melihat masalah, dan siswa mampu membangun pengetahuannya sendiri dikarenakan
adanya upaya siswa dalam menemukan dan mencari solusi terhadap suatu fenomena
sehingga belajarpun mennjadi bermakna. Siswa aktif dan guru berperan sebagai
mediator dan faslitator.
Penilaian di
dalam k.13 dilihat bukan dari aspek pengetahuan saja, melainkan dari aspek keterampilan,
sikap dan tingkahlakunya, namun dengan hadir nya K.13 beban guru pun semakin
banyak, dilihat saja dalam penilaian. Guru harus mengisi format penilaian dan
harus lebih mengamati siswa disisi lain guru juga harus mengurus sertifikasinya
dengan jam wajib 24 jam, belum lagi jika guru tersebut menjadi wali kelas.
Untuk para siswa k.13 juga menempatkan siswa lebih aktif dengan membuat diskusi
kelompok, namun dengan adanya diskusi kelompok waktu yang diperlukan dalam
proses belajar mengajar menjadi lebih banyak, waktu mereka banyak dihabiskan
disekolah, banyak siswa yang merasakan kelelahan dan jenuh terhadap proses
pembelajaran dan lama waktu yang digunakan.
Dalam hal ini
untuk menghindari kejenuhan dan beratnya beban yang di tanggung para siswa,
sekolah pun memasukkan BK sebagai bagian dalam satuan pendidikan, yang mana BK
mempunyai tujuan-tujuan yang dapat
membantu siswa dalam menghadapi masalah belajar dalam kurikulum 2013. Selain
belajar, siswa juga boleh berkonsultasi kepada BK sehingga siswa mampu
mengontrol emosinya dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya selama proses
belajar mengajar berlangsung serta mampu membagi waktu agar kejenuhan dalam belajar
dapat di minimalisirkan. Namun BK di tingkat satuan pendidikan terlihat sebagai
suatu tempat atau layanan yang hanya di peruntukkan untuk orang-orang nakal dan
bermasalah dibidang akademis nya, bahkan ada persepsi orang “kalau gk nakal, gk
ada kerja guru BK nanti” problem BK di tingkat satuan pendidikan selain menjadi
momok negatif terhadap sudut pandang para siswa, konselor di sekolah di anggap
sebagai polisi sekolah sehingga siswa takut dan tidak mau untuk berkonsultasi
ke BK terhadap masalah yang dihadapinya baik masalah internal maupun eksternal.
1.2 Tujuan Penulisan
Untuk
menjelaskan tujuan BK dalam rangka meningkatkan kemandirian siswa di dalam K13
serta cara merubah image BK terhadap pandangan para siswa tingkat SMA
2. Pembahasan
2.1
Defenisi Bimbingan Konseling (BK)
Bimbingan
adalah proses pemberian bantuan. Sementara konseling, secara etimologi berasal
dari bahasa Latin “consilium “artinya “dengan” atau bersama” yang dirangkai
dengan “menerima atau “memahami” . Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah
konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyerahkan” atau “menyampaikan”
Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan
kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu
dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketiga hal
tersebut (Berdnard & Fullmer ,1969).
Bimbingan dan
konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan
maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam
bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan
dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No.
025/D/1995).
Bimbingan dan
konseling merupakan layanan ahli oleh konselor (guru bimbingan dan konseling). Konselor adalah salah satu
kualifikasi pendidikan, yaitu tenaga kependidikan, yaitu tenaga kependidikan
yang memiliki kekhususan pada bidang bimbingan dan konseling, yang
berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.[1]
2.2 Tujuan
Bimbingan Konseling (BK)
Tujuan bk
dibagi kedalam 2 kategori : (a). Tujuan umum, (b). Tujuan khusus [2]
a)
Tujuan
umum : untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai
dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan
dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakag yang ada (seperti latar
belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai dengan
tuntutan positif lingkungannya.
Contoh
di K.13 : Kurikulm 2013 dalam tingkat SMA telah mengatur pembagian jurusan
ipa/ips sejak semester 1 awal masuk sekolah. Dalam hal ini BK bertujuan agar
para siswa mampu memilih jurusan yang sesuai dengan potensi, bakat dan
minatnya, selain dalam lingkup sekolah menengah atas juga akan berlanjut pada
Perguruan Tinggi Negeri. Dalam pemilihan jurusan peran konselor sangat penting
untuk memberi suatu arahan terhadap siswa yang belum mengetahui jurusan apa
yang sesuai dengan bakat dan minatnya.
b)
Tujuan
khusus : penjabaran tujuan umum yang dikaitkan dengan permasalahan yang di
alami klien / siswanya. Dikarenakan individu makhluk yang unik maka cara
membimbing klien tidak boleh disamaratakan dengan klien yang lain.
Contoh
di K.13 : (1). Seorang anak yang salah jurusan, disana konselor bisa
menganalisi apa dan kenapa sang anak bisa salah jurusan, konselor kemudia
menggali tentang karakter atau bakat minat anak itu, kemudia konselor bisa
mengarahkan anak tersebut, dan disini klien sendirilah yang akan mencari solusi
dari masalahnya.
(2).
K.13 anak di tuntut untuk aktif, namun jika ada seorang anak yang tidak aktif
dan dia berkonsultasi dengan BK maka guru bk bisa memberi suatu arahan atau
sebuah motivasi sehingga ia kembali termotivasi dalam pembelajaran dan ia mampu
aktif di dalam kelas.
(3).
Seorang anak mengalami kejenuhan saat proses pembelajaran dikarenakan ia tidak
bisa membagi waktunya antara belajar dan bermain dengan teman selingkungannya.
Dalam hal ini, anak tersebut bisa berkonsultasi kepada BK bagiamana cara agar
ia bisa membagi waktunya, dan meminimalisirkan rasa jenuh terhadap pelajaran disekolah.
2.3 Cara
mengubah image BK terhadap sudut pandang siswa (BK)
Peran guru mata pelajaran atau wali kelas bisa
berpengaruh dalam mengubah image BK di dalam mindset para siswa, salah satunya
adalah memasyarakatkan BK, dan mensosialisasikan BK terhadap siswa, beri tahu
siswa apa itu BK, tujuan Bk, Asas-asas Bk, layanan BK, dsb.
Adapun upaya Guru sebagai pembantu
guru BK :
Dalam buku
Manajemen Bimbingan dan Koseling terdapat rincian tugas guru mata pelajaran,
di antaranya:
a.Membantu guru pembimbing dalam
mengidentifikasi siswa yang memerlukan
layanan bimbingan dan konseling.
b.Membantu memberikan data atau
informasi siswa baik individual mapupun kelompok untuk keperluan layanan.
c.Membantu pelaksanaan
treatment/pemberian bantuan kepada siswa melalui proses belajar mengajar.
d.Memberikan pengajaran perbaikan
(remedial teaching) ataupun pengayaan (enrichment) dalam rangaka pelaksanaan layanan bimbingan dan
konseling.
e.Mengikuti konferensi kasus siswa
terutama bagi guru yang mengajar pada kelas dimana persoalan siswanya
dibicarakan dalam konferensi kasus.
f.Mengalihtangankan siswa yang
memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing.
g. Berpartisipasi dalam upaya pencegahan munculnya masalah
siswa, dalam pengembangan potensi, dan turut bertanggung jawab dalam upaya
mengatasi masalah siswa di sekolah.[3]
Dalam hal ini perlu kerja sama antara semua pihak sekolah
selain dari guru, kepala sekolah juga harus ikut andil dalam memasyarakatkan
BK, dengan salah satu caranya kepala sekolah memberikan prasarana
dan sarana Bimbingan Konseling yang memadai dan tepat guna. Selain itu guru BK juga harus inovatif dan bersahabat
kepada para siswa agar cap polisi sekolah bisa perlahan hilang. Guru BK jugs
harus lebih berkompeten di bidangnya.
3. Penutup
3.1
Kesimpulan
Di dalam ruang
lingkup k.13 siswa di tutut untuk aktif, dan guru sebagai mediator dan
fasilitator, namun waktu yang di pergunakan pada k.13 cukuplah banyak,
dikarenakan siswa harus aktif, maka sering dilakukan diskusi. Penilaian dalam
k.13 pun beragam, baik penilaian dari aspek pengetahuan, ada juga penilaian
aspek keterampilan dan aspek tingkah laku. Penilaian yang seperti ini membuat
guru terbebani dikarenakan guru di sibukkan dan sertifikasi juga. Bukan guru
saja, siswa juga merasa jenuh dan kelelahan dikarenakan waktu yang banyak
dihabiskan di sekolah. Hal-hal seperti ini bisa di konsultasikan kepada BK,
bagaimana cara siswa agar terhindar dari rasa jenuh dan mampu membagi waktunya
antara belajar dan bermain. Dengan berkonsultasi kepada BK siswa menjadi mampu
menyelesaikan masalahnya secara mandiri, siswa juga mampu memahami dirinya
dikarenakan adanya arahan dari BK. Namun di tingkat satuan pendidikan Khususnya
di SMA, BK merupakan suatu layanan atau tempat untuk orang-orang nakal dan
bermasalah, bahkan ada persepsi “kalau gk nakal, gk ada kerja guru BK nantik” ,
konselor juga di anggap sebagai polisi sekolah yang menakutkan. Sehingga tak
jarang siswa menghindari BK.
3.2
Saran
Mengenai
materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya
rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis
banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun kepada
penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di
kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga para pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Kamaludin.H. Bimbingan dan Konseling Sekolah. https://jurnaldikbud.kemdikbud.go.id.
2011. Hal:448
Priyatno dan Anti Erman. 1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Rineka Cipta. Hal:112
Thantawy R. 1995. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Jakarta. PT. Pamator Pressindo. Cet.Pertama. Hal:98
Tidak ada komentar:
Posting Komentar